Sepasang Kambing Kacang Bujang dan Dara
Google
 

06 August 2026

Reproduksi dan Perkembangbiakan Kerbau

Kerbau sering dikatakan sebagai hewan yang berkembang biak secara musiman. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya benar karena kerbau merupakan hewan poliesterus, sehingga dapat berkembang biak sepanjang tahun. 

Reputasi kerbau sebagai hewan yang sulit berkembang biak disebabkan oleh kerentanannya terhadap stres lingkungan, yang dapat menyebabkan anestrus (tidak mengalami birahi) dan subestrus (gejala birahi yang kurang jelas). 

Kondisi tersebut menyebabkan jarak beranak yang lebih panjang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar bagi industri peternakan kerbau perah. 

Kerentanan terhadap stres panas juga memengaruhi konsumsi pakan dan keseimbangan nutrisi, yang pada akhirnya menghambat efisiensi reproduksi.

Jantan

Kerbau Murrah jantan mencapai kematangan seksual pada usia dua hingga tiga tahun. Semen diproduksi sepanjang tahun, tetapi kualitasnya sangat dipengaruhi oleh stres panas dan pakan yang berkualitas rendah. 

Kerbau jantan tampaknya memiliki tingkat kesuburan tertinggi pada musim semi, ketika volume ejakulat dan konsentrasi sperma berada pada tingkat maksimum. 

Vitalitas sperma juga jauh lebih tinggi pada musim semi dibandingkan pada waktu lain dalam setahun. 

Sebaliknya, nilai tersebut mencapai tingkat terendah pada musim panas. Stres panas juga dapat berdampak negatif terhadap libido.

Betina

Kerbau betina liar atau yang hidup bebas mencapai kematangan seksual pada usia dua hingga tiga tahun. Kerbau Murrah betina yang dipelihara dengan baik dan diberi pakan yang memadai dapat mencapai pubertas lebih awal. 

Pubertas sangat dipengaruhi oleh faktor manajemen pemeliharaan. Ukuran tubuh lebih penting daripada umur. 

Seekor kerbau Murrah dara sebaiknya memiliki bobot sekitar 325 kg saat dilakukan inseminasi atau perkawinan, dan mencapai bobot 450–500 kg pada saat melahirkan anak pertama.

Di India, usia pubertas kerbau berkisar 36 hingga 42 bulan. Angka ini relatif lebih lambat dibandingkan negara lain, seperti Italia, di mana rata-rata usia saat melahirkan pertama berkisar antara 28 hingga 32 bulan (Borghese dan Mazzi, 2005).

Keterlambatan pubertas pada kerbau jantan maupun betina merupakan hal yang umum terjadi di India. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap anak kerbau selama masa pertumbuhannya. 

Setelah berusia sekitar empat hingga enam bulan, kerbau berpotensi mengalami pertambahan bobot badan sebesar 400–800 gram per hari, sehingga dapat mencapai bobot 300–450 kg, yaitu bobot yang sesuai untuk dikawinkan, pada usia sekitar 24 bulan.

Namun demikian, pada sebagian besar kerbau perah, kelahiran anak pertama baru terjadi pada usia empat hingga enam tahun. Kondisi ini terutama disebabkan oleh kurang memadainya pasokan pakan dan nutrisi selama fase pertumbuhan (Ranjan dan Pathak, 1992).

Siklus Reproduksi Kerbau

Siklus estrus pada kerbau berkisar antara 21 hingga 29 hari, bergantung pada jenis atau rasnya. Lama estrus umumnya sekitar 24 jam, tetapi dapat bervariasi antara 12 hingga 72 jam

Tanda estrus yang paling dapat diandalkan adalah sering buang air kecil. Dibandingkan dengan sapi, tanda-tanda estrus pada kerbau tidak begitu jelas. Banyak kerbau hanya menunjukkan gejala estrus pada malam hari sehingga sulit dideteksi. 

Kerbau yang sedang laktasi dapat mengalami sedikit penurunan produksi susu saat berada dalam masa birahi, meskipun penurunan tersebut umumnya tidak sejelas pada sapi. Kerbau juga dapat menjadi lebih gelisah dan lebih sulit diperah (Bhikane dan Kawitkar, 2000).

Parameter Reproduksi Kerbau

  • Usia pubertas: 36–42 bulan

  • Lama siklus estrus: 21 hari

  • Lama masa birahi: 12–24 jam

  • Waktu ovulasi: 10–14 jam setelah estrus berakhir

  • Periode kesuburan maksimum: 8 jam terakhir masa estrus

  • Lama kebuntingan: 310 hari

  • Masa involusi uterus: 25–35 hari


Sumber: Thomas, C. S. (2008). Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba, Swedia: DeLaval International AB.

20 August 2022

Pengantar Produksi Kerbau Perah: Inovasi Kontemporer dalam Produksi Kerbau


Perubahan dalam pembiakan, pemberian pakan, dan manajemen dapat menghasilkan perbaikan penting dalam kinerja produksi dan reproduksi kerbau (Sastry, 1983). Target yang jelas namun terabaikan adalah mencari tahu mengapa kelahiran anak pertama terjadi pada usia yang begitu tua.

Perhatian yang cermat sejak lahir hingga saat kerbau dara mencapai ukuran tubuh yang layak kawin dapat menurunkan usia beranak pertama selama enam hingga sembilan bulan (Sastry dan Tripathi, 1988). Sudah terbukti bahwa pemberian pakan yang seimbang dapat membuat kerbau dara mulai mengalami siklus birahi ketika kerbau mencapai berat badan 330 kg. Ada juga kasus di mana kerbau betina melahirkan pada umur 20 sampai 24 bulan (Ganguli, 1981).

Interval beranak pada kerbau dipengaruhi oleh masa birahi yang tidak teratur dan birahi senyap serta beberapa laporan ketidakteraturan hormon reproduksi dan musim. Ada penelitian yang melaporkan adanya kawin musiman pada kerbau karena berkurangnya kegiatan seksual pada masa antara bulan Maret dan Juni (Ganguli, 1981).

Meskipun kerbau dianggap sebagai ternak kawin musiman, tetapi juga ada laporan penelitian bahwa kerbau dapat kawin sepanjang tahun jika manajemen reproduksinya baik (Rao dan Nagarcenkar, 1977; Sastry dan Tripathi, 1988).

Dengan demikian, faktor manajemen yang penting untuk dipertimbangkan dalam meningkatkan produksi susu adalah mengelola status gizi pedet, kebersihan sebelum dan sesudah melahirkan, manajemen pemerahan yang baik, pemberian pakan yang seimbang, deteksi birahi dan inseminasi buatan, mengelola stres panas dan memperbaiki kandang (Ganguli, 1981; Sastry, 1983).

Pada artikel selanjutnya, beberapa aspek praktis yang berkaitan dengan peningkatan produksi kerbau perah akan dibahas secara lebih terperinci.

Hipyan Nopri, S.Pd., C.S.H.

Penerjemah Pertanian dan Peternakan

Padang Panjang, Sumatera Barat

Referensi:

Thomas, C. Santosh. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba: DeLaval International AB.


08 July 2022

PENILAIAN RISIKO CEPAT: Penularan Penyakit Mulut dan Kuku ke Orang yang Berkunjung ke Daerah yang Terjangkit PMK

Joint_WHO2


Sumber, tanggal, dan isi permintaan

Permintaan dari Malta, 10 Februari 2012 untuk penilaian risiko terhadap manusia, langkah pencegahan yang harus dilakukan untuk orang yang mengunjungi Libya, risiko terkait konsumsi makanan di Libya dan langkah pencegahan yang harus dilakukan ketika tiba di Malta (termasuk langkah di bea cukai).

Kesimpulan dan rekomendasi utama

Risiko penyakit Mulut dan Kuku menular ke manusia yang mengunjungi daerah yang terkena dampak sangat kecil jika konsumsi susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi atau daging yang tidak diolah dari hewan yang terinfeksi dan kontak langsung dengan hewan tersebut dihindari.

Persyaratan khusus Uni Eropa menetapkan tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko penyakit hewan, seperti yang didefinisikan dalam Peraturan Komisi (EC, The European Community, Masyarakat Eropa) No. 206/2009 tanggal 5 Maret 2009 tentang pemasukan kiriman pribadi produk yang berasal dari hewan ke kawasan Masyarakat Eropa, yang mengubah Peraturan (EC) No. 136/2004.

Pakar yang diminta pendapatnya

Pakar ECDC (The European Centre for Disease Prevention and Control, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa).

Informasi latar belakang penyakit

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh Aftovirus RNA, yang termasuk dalam famili Picornaviridae. PMK adalah yang paling menular dari semua penyakit menular pada hewan, yang paling parah menginfeksi sapi dan babi. Penyakit ini juga memengaruhi domba, kambing, rusa dan ruminansia berkuku belah lainnya. Hewan yang terinfeksi mengalami demam dan luka seperti lepuh di mulut, di puting susu, dan di sela kuku. Penularan terjadi melalui kontak langsung antara hewan yang terinfeksi dan hewan yang rentan (cairan dari lepuh, darah, air liur, susu atau kotoran); benda-benda yang tercemar - termasuk permukaan truk, tangga bongkar muat, alas kaki, pakaian, atau peralatan lainnya - dan pakan yang mengandung produk yang berasal dari hewan yang terinfeksi. Penularan melalui udara juga telah dilaporkan. Virus ini dapat bertahan hidup dalam pasteurisasi biasa, karena inaktivasi virus mengharuskan produk hewan dipanaskan hingga suhu minimum 70°C selama setidaknya 30 menit. Virus ini dapat bertahan hidup dalam pengeringan dan dapat bertahan selama berhari-hari atau berminggu-minggu dalam bahan organik dalam keadaan lembab dan sejuk.

Penyakit ini mengakibatkan penurunan produktivitas ternak dan pembatasan perdagangan internasional hewan hidup dan produk hewan [1]. PMK adalah penyakit yang tercantum dalam Kitab Hukum Kesehatan Hewan Darat Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) 2011 [2]. Menurut data statistik OIE, penyakit ini saat ini terdapat pada hewan di banyak wilayah di dunia: Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Negara dan kawasan berikut ini dianggap bebas PMK: Uni Eropa*, Kanada, Amerika Serikat, Amerika Utara dan Tengah, Australia, Selandia Baru, dan Chili.

Penyakit pada manusia

PMK pada dasarnya adalah penyakit hewan dan tidak terkait dengan penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus Coxsackie dan dikenal sebagai penyakit Tangan, Kaki dan Mulut.

Penyakit Kaki dan Mulut pada manusia dianggap sangat jarang [3]. Selama wabah besar PMK yang menyerang hewan di Inggris pada tahun 2001, tidak ada kasus pada manusia yang dilaporkan, meskipun ada peningkatan pengawasan untuk kasus pada manusia [4]. Penyakit pada manusia telah dilaporkan terutama sehubungan dengan konsumsi susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi, atau daging yang tidak diolah dari hewan yang terinfeksi atau sebagai akibat dari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi (misalnya petani dan dokter hewan) [5]. Tidak ada penularan antar-individu pada manusia yang telah dilaporkan.

Masa inkubasi pada manusia dua sampai enam hari. Gejalanya sebagian besar ringan dan sembuh sendiri, yang meliputi lepuh kesemutan di tangan, kaki, dan mulut, sakit tenggorokan, serta  demam. Pemulihan biasanya terjadi dalam seminggu setelah lepuh terakhir terbentuk.

Informasi latar belakang kejadian

Dalam dua bulan terakhir, tiga belas wabah PMK telah dilaporkan ke Pusat Nasional Kesehatan dan Pemuliaan Hewan OIE di Tripoli, Libya. Wabah pertama terjadi pada 18 Desember 2011 dan dikonfirmasi pada 31 Januari 2012. Wabah PMK tersebut menyerang sapi, domba, dan kambing di 13 wilayah geografis di Libya utara.

Sejauh ini tercatat 170 kasus pada sapi dan 3.500 pada domba. Wabah, yang disebabkan oleh virus serotipe O dan A, telah menyebabkan 51 kematian pada sapi dan sekitar 1.000 pada domba. Cara penularan utamanya diduga penyebaran virus melalui udara. Tindakan karantina hewan, vaksinasi, dan pengendalian pergerakan telah diterapkan.

* Catatan: Bulgaria melaporkan wabah terakhir mereka antara Januari dan April 2011 dan oleh karena itu, menurut rekomendasi OIE yang ditetapkan, status bebas PMK negara ini masih ditangguhkan hingga saat ini.

Penilaian ancaman ECDC bagi Uni Eropa

Risiko penularan ke manusia saat mengunjungi Libya

Dari bukti yang tersedia, risiko penularan penyakit PMK ke manusia dianggap sangat kecil dan terutama terkait dengan konsumsi susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi, atau produk daging yang tidak diolah dari hewan yang terinfeksi dan kontak langsung dengan hewan tersebut. Sebagai tindakan pencegahan umum, masyarakat disarankan agar tidak mengunjungi peternakan di daerah yang terkena PMK dan tidak mengonsumsi susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi, atau produk daging yang tidak diolah dari hewan yang terinfeksi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Tindakan pencegahan setelah kembali/migrasi dari wilayah atau daerah yang terjangkit PMK, termasuk langkah yang harus dilakukan di bea cukai

Persyaratan khusus UE menetapkan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penyakit hewan, sebagaimana didefinisikan dalam Peraturan Komisi (EC) No 206/2009 tanggal 5 Maret 2009 tentang pemasukan kiriman pribadi produk yang berasal dari hewan ke kawasan Masyarakat Eropa dan mengubah Peraturan (EC) No 136/2004 [6].

Kesimpulan

Risiko penularan Penyakit Mulut dan Kuku ke manusia sangat terbatas pada orang yang pernah berkunjung ke negara-negara yang terkena PMK, seperti Libya, jika konsumsi susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi atau produk daging yang tidak diolah dari hewan yang terinfeksi serta kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi PMK dihindari.

Peraturan Uni Eropa harus ditegakkan untuk mengurangi risiko penularan penyakit pada hewan.

Kontak

support@ecdc.europa.eu

Referensi

Departemen Lingkungan Pangan dan Urusan Pedesaan (DEFRA), Analisis Biaya-Manfaat Strategi Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku, Diakses 20 Februari 2012, Tersedia dari: http://archive.defra.gov.uk/foodfarm/farmanimal/diseases/atoz/fmd/documents/economic- costs_report.pdf

Lembaga Keamanan Pangan Eropa (EFSA), Penilaian Risiko Penyakit Mulut dan Kuku, Jurnal EFSA. 2006; 313: 1-34. Tersedia dari: http://www.efsa.europa.eu/en/efsajournal/doc/313.pdfhttp://www.oie.int/en/international-standard- setting/terrestrial-code/access-online/

Capella GL, Penyakit kaki dan mulut pada manusia. Lancet 2001:358;1374 Tersedia di URL: http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(01)06444-3/fulltext

Prempeh H, Smith R, Müller B. Penyakit mulut dan kuku: dampaknya bagi manusia. Dampak kesehatannya kecil, dampak ekonominya sangat besar. BMJ. 2001 Mar 10;322(7286):565-6.

Badan Perlindungan Kesehatan (HPA), Penyakit Mulut dan Kuku: Informasi umum. Diakses pada 20 Februari 2012. Tersedia dari: http://www.hpa.org.uk/Topics/InfectiousDiseases/InfectionsAZ/FootAndMouthDisease/GeneralInformation

Peraturan Komisi (EC) No 206/2009 tanggal 5 Maret 2009 tentang pemasukan kiriman pribadi produk yang berasal dari hewan ke kawasan Masyarakat Eropa dan mengubah Peraturan (EC) No 136/2004. Diakses pada 20 Februari 2012.

Tersedia dari:

http://eur-lex.europa.eu/LexUriServ/LexUriServ.do?uri=OJ:L:2009:077:0001:0019:EN:PDF

Artikel Diterjemahkan dari Bahasa Inggris

Oleh Hipyan Nopri, S.P.d., C.S.H.

Penerjemah Inggris-Indonesia

20 June 2022

Pengantar Produksi Kerbau Perah: Pemuliaan untuk Meningkatkan Produksi Susu

Heritabilitas pembagian susu pada ambing sudah stabil selama beberapa puluh tahun dan kerbau perah telah dimuliakan agar menghasilkan fraksi sisterna yang lebih besar, ukuran puting yang lebih kecil, dan laju aliran susu yang tinggi (Johansson dkk., 1952). 

Seleksi lebih lanjut diperkirakan dapat dilakukan pada kapasitas penyimpanan ambing kerbau perah. Kerbau perah diseleksi agar lebih sering menghasilkan susu, agar sesuai dengan perkembangan terbaru dalam pemerahan susu otomatis di kawasan lain seperti Eropa.

Di sejumlah negara seperti Australia dan Selandia Baru yang kerbaunya dilepas di padang rumput, kerbau diseleksi agar menghasilkan kapasitas penyimpanan ambing yang lebih besar dan interval produksi susu yang lebih lama (Knight, 2001). 

Meskipun kerbau di India telah diseleksi pada karakteristik produksi susunya, seleksi karakteristik produksi susu ini belum dilakukan dari perspektif pemerahan susu menggunakan mesin. Selain itu, terbatasnya penerapan teknik pemuliaan canggih seperti inseminasi buatan telah menghambat proses perbaikan trah kerbau (Sastry, 1983).

Perubahan dalam pemuliaan, pemberian pakan, dan cara pemeliharaan dapat menghasilkan perbaikan penting dalam kinerja produksi dan reproduksi kerbau (Sastry, 1983). Target yang jelas tetapi terabaikan adalah meneliti mengapa beranak pertama terjadi begitu lambat pada kerbau. 

Perhatian yang cermat sejak lahir hingga saat kerbau dara mencapai ukuran tubuh yang dapat dikawinkan dapat mengurangi usia beranak pertama hingga enam sampai sembilan bulan (Sastry dan Tripathi, 1988). 

Telah terbukti bahwa pemberian pakan yang seimbang dapat membuat kerbau dara mulai mengalami siklus birahi ketika kerbau dara mencapai berat badan 330 kg. Ada juga kasus di mana kerbau dara sudah melahirkan pada usia 20 hingga 24 bulan (Ganguli, 1981).

Interval beranak pada kerbau dipengaruhi oleh periode birahi yang tidak teratur dan birahi senyap serta beberapa ketidakteraturan hormon reproduksi dan kebermusiman reproduksi (reproductive seasonality). Selain itu, ada juga perkawinan musiman pada kerbau karena berkurangnya aktivitas seksual pada masa antara bulan Maret sampai Juni (Ganguli, 1981). 

Meskipun kerbau dianggap sebagai hewan ternak yang hanya kawin pada musim tertentu, ada pula penelitian yang melaporkan bahwa kerbau dapat berkembang biak sepanjang tahun jika manajemen reproduksinya baik (Rao dan Nagarcenkar, 1977; Sastry dan Tripathi, 1988). 

Dengan demikian, faktor manajemen penting yang perlu dipertimbangkan dalam meningkatkan produksi susu adalah mengelola status gizi menjelang beranak, kebersihan sebelum dan setelah beranak, manajemen pemerahan susu kerbau yang baik, pemberian pakan yang seimbang, deteksi birahi dan inseminasi buatan, mengelola stres kerbau akibat panas, dan memperbaiki kandang (Ganguli, 1981; Sastry, 1983).

Kerbau dianggap sebagai hewan ternak yang hanya kawin pada musim tertentu. Namun, ini tidak sepenuhnya benar karena kerbau adalah hewan ternak poliestral dan dapat berkembang biak sepanjang tahun. Reputasi kerbau sebagai ternak yang susah kawin disebabkan kerentanan alaminya terhadap stres lingkungan, yang menyebabkan anestrus dan sub-estrus. 

Keadaan ini menyebabkan masa antar-beranak yang lama, yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar bagi industri susu kerbau. Kerentanan terhadap stres panas juga memengaruhi asupan pakan dan pada gilirannya berpengaruh pada keseimbangan nutrisi, dan ini juga menghambat efisiensi reproduksi.

Kerbau Jantan

Kerbau jantan mencapai kematangan seksual pada usia dua hingga tiga tahun. Semen diproduksi sepanjang tahun tetapi sangat dipengaruhi oleh stres panas dan pakan berkualitas rendah. Kerbau tampaknya paling subur di musim semi, yaitu pada saat volume ejakulasi dan konsentrasi sperma mencapai angka tertinggi. 

Vitalitas sperma juga jauh lebih tinggi di musim semi daripada di waktu lain dalam setahun. Nilai semua karakteristik ini mencapai angka terendah di musim panas. Stres panas mungkin menimbulkan efek negatif terhadap libido.

Kerbau Betina

Kerbau betina liar atau feral (semi liar) mencapai kematangan seksual pada usia dua hingga tiga tahun. Kerbau ternak yang dipelihara dan diberi pakan yang baik dapat mencapai pubertas lebih awal. 

Pubertas sangat dipengaruhi oleh faktor cara pemeliharaan. Ukuran lebih penting daripada usia, dan kerbau Murrah dara harus memiliki berat sekitar 325 kg saat inseminasi atau dikawinkan dan 450 hingga 500 kg pada saat beranak pertamanya. 

Usia pubertas pada kerbau adalah 36 hingga 42 bulan di India. Ini relatif lambat dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Italia, di mana usia saat beranak pertama pertama rata-rata antara 28 hingga 32 bulan (Borghese dan Mazzi, 2005).

Pubertas yang lambat pada kerbau jantan dan betina adalah hal biasa di India. Ini karena kurangnya perhatian pada anak kerbau selama masa pertumbuhannya. Kerbau berpotensi mencapai pertambahan berat 400 hingga 800 g setiap hari setelah berusia sekitar empat hingga enam bulan, dan dapat mencapai berat badan 300 hingga 450 kg yang cocok untuk dikawinkan pada usia sekitar 24 bulan. 

Namun, pada sebagian besar kerbau perah, kerbau betina baru beranak pada usia empat hingga enam tahun. Hal ini terutama disebabkan oleh pasokan pakan dan nutrisi yang tidak memadai selama fase pertumbuhan (Ranjan dan Pathak, 1992).

Siklus Reproduksi Kerbau

Siklus birahi bervariasi antara 21 hingga 29 hari tergantung trah kerbaunya. Total lama birahi biasanya 24 jam tetapi bervariasi dari 12 hingga 72 jam. Tanda birahi yang paling dapat diandalkan adalah sering buang air kecil. Tanda birahi jauh kurang jelas pada kerbau dibandingkan dengan tanda birahi pada sapi.

Banyak kerbau menunjukkan birahi hanya pada malam hari sehingga sulit dideteksi. Kerbau yang sedang menyusui mungkin mengalami sedikit penurunan produksi susu saat birahi, meskipun tidak jelas seperti pada sapi. Kerbau mungkin lebih gelisah dan sulit diperah susunya (Bhikane dan Kawitkar, 2000).

Usia saat pubertas: 36 sampai 42 bulan

Lama siklus birahi: 21 hari

Lama birahi: 12 sampai 24 jam

Waktu ovulasi: 10 sampai 14 jam setelah berakhirnya birahi

Masa kesuburan maksimal: 8 jam terakhir birahi

Masa kebuntingan: 310 hari

Masa involusi rahim: 25 sampai 35 hari

Referensi

Thomas, C. Santosh. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba: DeLaval International AB.

04 June 2022

Pengantar Produksi Kerbau Perah: Keterbatasan Produksi Susu Kerbau

Terbatasnya penerapan program yang sistematis untuk perbaikan trah kerbau melalui pemuliaan selektif di tingkat desa telah menjadi hambatan utama dalam pengembangan produksi kerbau. Secara umum, kerbau perah dianggap efisien jika usia saat pertama kali beranak sekitar 24 sampai 30 bulan. Interval beranak harus sekitar 12 sampai 13 bulan, dengan lama laktasi sekitar 300 hari, masa kering 60 sampai 90 hari, dan produksi susu antara 6000 sampai 7000 kg per laktasi. 

Sebagai contoh, di Swedia, rata-rata susu yang dihasilkan per kerbau perah yang tercatat adalah 8.794 kg, dengan 4,1% lemak dan 3,4% protein atau 8.939 kg ECM (energy corrected milk, susu dengan penyesuaian energi, Sjaunja dkk., 1990). Usia saat beranak pertama di antara kawanan kerbau dilaporkan sekitar 29 bulan dengan interval beranak sekitar 13,2 bulan (Asosiasi Susu Swedia, 2003).

Orang bisa berpendapat bahwa kerbau memiliki karakteristik produksi dan reproduksi spesifik-spesiesnya sendiri. Pada umumnya, kerbau biasanya berumur sekitar 40 sampai 60 bulan pada saat pertama kali beranak (Ganguli, 1981). Namun, ada indikasi bahwa karakteristik produksi dapat diperbaiki. Sebagai contoh, trah kerbau Mediterania dan kerbau rawa beranak lebih cepat daripada kerbau di anak benua India (Rao dan Nagarcenkar, 1977).

Interval beranak rata-rata kerbau India dan Pakistan berkisar antara 15 hingga 18 bulan. Periode kering dilaporkan 90 hingga 150 hari untuk trah kerbau Nili-Ravi Pakistan sementara untuk kerbau Murrah berkisar antara 60 hingga 200 hari (Wahid, 1973). Lama laktasi rata-rata berkisar antara 252 sampai 270 hari. Akibat dari faktor-faktor tersebut, maka umur produktif seekor kerbau hanya 39% dari total umurnya, dibandingkan dengan 52% pada trah kerbau perah yang dikembangkan (Ganguli, 1981; Sastry, 1983).

Di sebagian besar negara penghasil susu kerbau di Asia, hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat variasi musiman yang besar dalam perkembangbiakan dan beranak pada kerbau (Ganguli, 1981). Di India dan Pakistan, 80% kerbau beranak selama bulan Juni dan Desember, sehingga menyebabkan penurunan produksi susu dari bulan Maret hingga Juni. 

Produksi mulai meningkat pada bulan Juni, dan mencapai puncaknya sekitar bulan September – Oktober sebelum menurun lagi. Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa penurunan produksi susu di awal musim panas mungkin disebabkan oleh stres panas dan kekurangan hijauan. Badan yang gelap, kerapatan kelenjar keringat yang lebih rendah, dan kulit yang tebal menyulitkan kerbau untuk berkembang biak dalam kondisi yang sangat panas dan kering.

Kerbau telah mengembangkan mekanisme bertahan hidup untuk mencari air tempat berendam dalam keadaan seperti ini, tetapi panas atau dingin yang ekstrem secara signifikan mempengaruhi produksi susu dan efisiensi reproduksi kerbau (Sastry, 1983). Selain pengaruh iklim, pakan dan manajemen yang buruk juga mempengaruhi perkembangbiakan dan produksi kerbau.

Hipyan Nopri, S.Pd., C.S.H.

Penerjemah Inggris-Indonesia

Padang Panjang, Sumatera Barat.

Rujukan:

Thomas, C. Santosh. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba: DeLaval International AB.

30 October 2021

Pengantar Produksi Kerbau Perah: Karakteristik dan Perilaku Kerbau

Genetika Kerbau

Meskipun kerbau sungai adalah hewan ternak utama penghasil susu di beberapa negara, kerbau merupakan hewan ternak primitif dibandingkan dengan trah hewan ternak penghasil susu yang sudah maju di kalangan sapi seperti Holstein-Friesian dan Jersey.

Pembiakan selektif selama ratusan tahun telah menghasilkan sapi dengan sifat produksi dan reproduksi yang hampir dapat diperkirakan. Hal ini tidak terjadi pada trah kerbau karena sebagian besar kerbau dipelihara oleh petani marginal yang tidak memiliki lahan, dan ternak kerbau mereka berkembang biak secara alami (Chantalakhana dan Falvey, 1999). Namun, tidak ada alasan mengapa trah kerbau tidak dapat dikembangkan dengan cara yang sama seperti sapi.

Kerbau memiliki sejumlah kemiripan anatomi dan fisiologi dengan spesies hewan ternak lainnya dalam famili Bovidae. Sapi memiliki 60 kromosom diploid, kerbau sungai 50, dan kerbau rawa 48. 

Sementara kedua trah kerbau dapat dikawinkan dan menghasilkan keturunan yang fertil dengan 49 kromosom diploid, kerbau tidak dapat dikawinkan dengan sapi dan spesies ternak lainnya dalam famili Bovidae ini (Mahadevan, 1992).

Tampilan Kerbau

Kerbau rawa berwarna abu-abu, berleher merunduk, dan mirip dengan banteng. Kerbau memiliki tanduk besar mengarah ke belakang (BSTID, 1981). Tidak ada perbedaan yang jelas di antara berbagai trah kerbau rawa, kecuali ukuran tubuhnya (Subasinghe dkk., 1998). 

Kerbau sungai biasanya berwarna hitam atau kelabu tua, dengan tanduk lurus yang melingkar rapat atau terkulai (BSTID, 1981). Kerbau sungai umumnya memiliki ukuran tubuh yang besar.

Terdapat perbedaan yang lebih besar di antara beragam trah kerbau sungai daripada di antara berbagai trah kerbau rawa (Subasinghe dkk., 1998). Berat badan kerbau betina trah Murrah berkisar antara 430 sampai 500 kg menurut Ganguli (1981).

Nutrisi dan Siklus Hidup Kerbau

Kerbau adalah hewan ternak pemakan rumput (Pathak, 1992), dan kerbau memakan lebih banyak jenis tumbuhan daripada sapi (BSTID, 1981). 

Kerbau memanfaatkan pakan berserat berkualitas rendah lebih efisien daripada sapi. Kerbau memiliki pergerakan rumen lebih lambat, laju aliran keluar dari rumen yang lebih kecil, dan populasi bakteri yang lebih tinggi di dalam cairan rumen.

Hal ini menyebabkan paparan pakan lebih lama sehingga pencernaannya lebih sempurna. Rumen kerbau juga menghasilkan asam lemak volatil yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumen sapi. 

Ini mungkin salah satu faktor yang menyebabkan kandungan lemak yang lebih tinggi dalam susu kerbau (Ganguli, 1981).

Kerbau memiliki umur produktif yang sangat panjang. Seekor kerbau betina sehat yang normal dapat mencapai sembilan sampai sepuluh masa laktasi (Ganguli, 1981).

Toleransi Panas Kerbau

Kerbau kurang toleran terhadap panas dan dingin yang ekstrem dibandingkan berbagai trah sapi. Suhu tubuh kerbau lebih rendah daripada suhu tubuh sapi meskipun kulit hitam kerbau menyerap banyak panas dan kerapatan kelenjar keringat kulit kerbau hanya seperenam kerapatan kelenjar keringat kulit sapi.

Karena itu, kerbau suka berkubang di air ketika suhu dan kelembaban tinggi (BSTID, 1981). Pengaturan suhu tubuh dengan cara berkubang ini mempengaruhi asupan pakan, reproduksi, dan produksi susu.

Temperamen Hewan Ternak Perah

Studi perbandingan temperamen dilakukan pada kerbau Murrah, sapi hasil kawin silang, dan sapi Red Sindhi (trah sapi India). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase hewan jinak di kalangan kerbau lebih tinggi (Nayak dan Mishra, 1984).

Hampir 50% dari kelompok kerbau Murrah ini merupakan hewan ternak yang jinak. Hanya sekitar 7% dari kelompok kerbau Murrah ini yang agresif. Kerbau yang lainnya digolongkan sebagai hewan yang pencemas atau penakut. Namun, dalam penelitian lain oleh Roy dan Nagpaul (1984), kerbau Murrah dibandingkan dengan sapi perah Karan Swiss dan Karan Fries (dua trah sapi kawin silang India).

Penelitian tersebut menemukan bahwa kerbau memiliki skor temperamen yang lebih tinggi (temperamen lebih agresif) daripada sapi perah. Skor temperamen untuk ketiga kelompok hewan ternak tersebut menurun seiring meningkatnya persamaan antara laktasi ketiga dan kelima (Roy dan Nagpaul, 1984).

Temperamen kerbau yang berbeda mempengaruhi asupan konsentrat, perilaku saat diperah, dan produksi susu (Nayak dan Mishra, 1984). Kerbau yang jinak lebih disukai daripada hewan yang penakut dan agresif karena kerbau yang jinak lebih mudah untuk diperah, ditangani, dan diatur. 

Kerbau yang jinak juga menghasilkan lebih banyak susu dengan kualitas yang relatif lebih baik daripada kerbau yang agresif (Nayak dan Mishra, 1984; Gupta dkk., 1985).

Dalam perbandingan antara kerbau Murrah yang jinak, pencemas, penakut, dan yang agresif, penelitian menemukan bahwa kerbau yang jinak memiliki tingkat asupan konsentrat yang lebih tinggi, waktu mulai keluarnya susu yang lebih singkat, waktu pemerahan yang sedikit lebih lama, hasil susu harian yang lebih tinggi, kecepatan aliran susu yang lebih tinggi, dan persentase lemak susu yang lebih tinggi daripada kelompok kerbau lainnya (Nayak dan Mishra, 1984).

Perilaku Pemeliharaan Kerbau

Dalam penelitian oleh Thind and Gill (1986), ditemukan bahwa kerbau makan paling banyak setelah diperah pada pagi dan sore hari, dan kerbau juga makan dalam jumlah sedang sekitar tengah hari dan tengah malam.

Perilaku ruminasi atau memamah biak paling aktif setelah setiap puncak perilaku makan. Beberapa variasi di antara masa musiman juga terlihat. Kerbau minum air tiga kali selama masa 24 jam di musim dingin dan empat kali selama masa 24 jam selama musim panas.

Dalam sebuah penelitian oleh Schultz dkk. (1977), rata-rata 27% waktu dihabiskan untuk makan, 39% untuk memamah biak, dan 34% untuk istirahat (sambil berbaring atau berdiri). Sebuah penelitian serupa pada kerbau yang merumput menemukan 37 sampai 54% dari waktu kerbau digunakan untuk makan, 28% untuk memamah biak, dan waktu yang tersisa untuk istirahat, berjalan dan berkubang (Bud dkk., 1985).

Penelitian perilaku lainnya mengenai kerbau Murrah dengan sistem kandang longgar dilakukan oleh Odyuo dkk. (1994). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerbau menghabiskan lebih banyak waktu secara signifikan untuk makan, bersantai (perilaku selain makan, ruminasi atau memamah biak, dan tidur) dan berjalan di siang hari, dan secara signifikan lebih banyak waktu untuk memamah biak dan tidur di malam hari.

Puncak perilaku makan kerbau pada kerbau yang sedang menyusui terlihat sekitar pukul 04:00, 09:00, 13:00, 15:00, dan 19:00. Perilaku ruminasi atau memamah biak paling sedikit pada waktu sekitar tengah hari dan paling banyak pada pagi dan sore hari. Puncak tertinggi perilaku tidur terlihat sekitar pukul 03:00 dan 23.00. Waktu bersantai mencapai puncaknya sekitar tengah hari.

Perilaku Kerbau dalam Peternakan Mekanis

Memadukan berbagai aspek peternakan kerbau perah secara bersama-sama, seperti perbaikan kandang, nutrisi, pembiakan, dan pemerahan, terbukti menghasilkan peningkatan yang luar biasa dalam produktivitas kerbau (Sastry dan Tripathi, 1988). Kesejahteraan kerbau yang lebih baik akan terlihat dalam kegiatan perilaku normal dan produksi susu.

Pada sapi perah telah diketahui bahwa membatasi pemberian pakan normal menyebabkan kelainan perilaku seperti lidah bergulung (Redbo dkk.1996). 

Ritme berbagai kegiatan kerbau seperti makan, berbaring, berdiri, dan memamah biak tidak terganggu oleh mekanisasi berbagai kegiatan peternakan seperti pemberian pakan konsentrat, penanganan pupuk kandang, pemberian air, dan pemerahan (Thomas dkk., 2005). 

Namun, menggunakan pancuran untuk mendinginkan kerbau sebelum memerah susu dan ketika hari sangat panas terbukti meningkatkan perilaku makan di siang hari (ibid).

Hipyan Nopri, S.Pd., C.S.H. (Calon Sarjana Hukum)

Penerjemah Dokumen Peternakan Inggris-Indonesia

Padang Panjang, Sumatera Barat.

Referensi

Thomas, C. Santosh. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba: DeLaval International AB.

24 October 2021

Pengantar Produksi Kerbau Perah: Kegunaan Kerbau

Sebagai Hewan Pekerja

Kerbau menjadi hewan pekerja penting dalam pertanian di Asia.

Kerbau sering digunakan untuk membajak, meratakan tanah, menanam tanaman pertanian, mengairi sawah, menaman tanaman ladang, memompa air, menarik gerobak, kereta luncur dan perahu tarik dangkal.

Kerbau juga digunakan untuk mengangkut penumpang, mengirik padi, memeras tebu, menarik kayu, dan lain-lain.

Kerbau memiliki keunggulan dibandingkan hewan pekerja lainnya di lahan basah atau berlumpur berkat kukunya yang besar. Kaki kerbau dapat menahan kondisi basah lebih baik daripada sapi.

Namun, kerbau tidak secepat sapi, kuda atau keledai. Ini membuat kerbau tidak cocok digunakan di lahan kering (BSTID, 1981).

Sebagai Penghasil Daging

Kerbau telah digunakan sebagai hewan pekerja selama berabad-abad. Hal ini menyebabkan perkembangan otot yang luar biasa: sebagian kerbau dapat mencapai berat lebih dari 1000 kg.

Meskipun kerbau menjadi sumber utama daging, kerbau tidak digunakan hanya untuk produksi daging sampai saat ini.

Biasanya daging kerbau berasal kerbau yang sudah tua dan tidak kuat lagi bekerja sehingga tidak heran kalau daging kerbau dianggap berkualitas rendah.

Namun, anggapan ini tidak benar untuk daging dari kerbau yang masih muda. Daging kerbau dari kerbau yang dipelihara dan diberi pakan dengan baik rasanya empuk dan enak.

Daging kerbau sedikit mengandung lemak. Pada umumnya, karkas kerbau memiliki proporsi otot yang lebih tinggi dan rasio tulang dan lemak yang lebih rendah daripada karkas sapi (BSTID, 1981).

Sebagai Penghasil Susu

Kerbau merupakan hewan penghasil susu terbesar kedua di dunia. Pada tahun 2004, menurut data statistik dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, produksi susu kerbau dunia 75,8 juta ton (jt).

Tren produksi susu dunia selama lima tahun sampai tahun 2004 menunjukkan bahwa volume susu kerbau terus meningkat sebesar sekitar tiga persen per tahun (lihat Tabel 1).

Walaupun sapi perah menghasilkan 84% dari total produksi susu dunia, harus dicatat bahwa produksi susu sapi ini rata-rata mengandung lemak dan protein 4% dan 3,5%.

Kandungan lemak rata-rata dalam susu kerbau sekitar 7 hingga 8% sedangkan kandungan protein dalam susu kerbau berkisar antara 4,2 - 4,5%.

Jadi dalam hal susu yang telah disesuaikan energinya, susu kerbau memberikan kontribusi pangan yang lebih besar daripada volume aktual yang ditunjukkan susu kerbau.

Tabel 1 Tren Produksi Susu Kerbau Dunia -
Perbandingan dengan Jenis Susu Lainnya (FAO, 2004)

India merupakan produsen susu terbesar di dunia, tetapi tidak seperti negara penghasil susu lainnya, susu di India diproduksi oleh sejumlah besar peternak (sekitar 70 juta peternak) yang tinggal di sekitar 500.000 desa terpencil. Keluarga peternak penghasil susu sebagian besar miskin dan kurang mampu.

Oleh karena itu, pendapatan tambahan setiap tahun melalui penjualan susu surplus sangat penting untuk kesejahteraan dan keamanan ekonomi mereka (Manorama India Yearbook, 1998).

Trah kerbau sungai menghasilkan lebih banyak susu daripada trah kerbau rawa karena kerbau sungai telah diseleksi secara khusus untuk produksi susunya.

Rata-rata hasil susu dari trah kerbau sungai Murrah, Nili-Ravi, dan Surti masing-masing adalah 2.000 hingga 2.100, 1.800 hingga 2.000, dan 1.600 hingga 1.800 kg per masa laktasi, menurut Subasinghe dkk. (1998).

Namun, laporan hasil susu yang lebih tinggi, terutama pada kerbau Murrah, bukanlah hal yang aneh. Hasil susu selama masa laktasi sebesar 3.775 kg pada kerbau Murrah dilaporkan oleh Basu dkk. (1979). Saat ini angka produksi susu ini bahkan lebih tinggi dalam beberapa kasus.

Susu Kerbau

Susu kerbau lebih banyak mengandung padatan, lemak, protein, dan vitamin dibandingkan dengan susu sapi.

Susu kerbau juga mengandung lebih sedikit kolesterol dan lebih banyak tokoferol, yang merupakan antioksidan alami.

Aktivitas peroksidase dua sampai empat kali lebih tinggi pada susu kerbau dibandingkan pada susu sapi, yang berarti bahwa susu kerbau memiliki kualitas pemeliharaan alami yang lebih baik (Chantalakhana dan Falvey, 1999).

Susu kerbau terlihat lebih putih daripada susu sapi karena kekurangan pigmen kuning karoten, prekursor vitamin A. Tetapi susu kerbau mengandung lebih banyak vitamin A daripada susu sapi.

Produk Susu Olahan

Susu kerbau digunakan untuk berbagai produk susu yang seperti mentega, minyak mentega (mentega yang dijernihkan atau ghee), keju lunak dan keras, susu kental atau susu yang diuapkan, es krim, yoghurt, dan susu mentega.

Sifat susu kerbau membuatnya sangat cocok untuk diolah. Misalnya, dibutuhkan delapan kilogram susu sapi untuk menghasilkan satu kilogram keju, sedangkan dengan susu kerbau hanya diperlukan lima kilogram (BSTID, 1981).

Di India, 28% dari total produksi susu diubah menjadi ghee dan sekitar 20% diubah menjadi produk seperti dahi (dadih), khoa (susu dehidrasi) dan berbagai manisan susu (Chantalakhana dan Falvey, 1999).

Hipyan Nopri, S.Pd., C.S.H. (Calon Sarjana Hukum)

Penerjemah Dokumen Peternakan Inggris-Indonesia

Padang Panjang, Sumatera Barat.

Referensi

Thomas, C.S. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba: DeLaval International AB.

21 October 2021

Pengantar Produksi Kerbau Perah: Klasifikasi dan Trah Kerbau

Kerbau ternak Bubalus bubalis termasuk famili Bovidae, sub-famili Bovinae, genus bubalis dan spesies arni atau kerbau liar India (Chantalakhana dan Falvey, 1999).

Kerbau diklasifikasikan menjadi dua kelas yang berbeda: kerbau rawa dan kerbau sungai.



Kerbau Rawa

Kerbau rawa banyak ditemukan di Cina, Thailand, Filipina, Indonesia, Vietnam, Burma (Myanmar), Laos, Sri Lanka, Kamboja, dan Malaysia. 

Kerbau ini terutama digunakan sebagai hewan pekerja, khususnya dalam penanaman padi.

Kerbau rawa menghasilkan susu dalam jumlah yang relatif kecil – 1,0 hingga 1,5 liter per hari – sehingga tidak banyak diternakkan untuk produksi susu (Chantalakhana dan Falvey, 1999).

Kerbau rawa dapat diternakkan untuk produksi daging (BSTID, 1981). 

Nama 'rawa' mungkin disebabkan oleh kecenderungan trah kerbau ini untuk berkubang di genangan air dan lubang lumpur (Subasinghe dkk., 1998).

Kerbau Sungai

Trah kerbau sungai di anak benua India terutama dipelihara untuk produksi susu. Hasil susu kerbau ini sekitar enam sampai tujuh liter per hari.

Dua belas dari 18 trah utama kerbau dipelihara terutama untuk produksi susu. Trah utama kerbau penghasil susu di India dan Pakistan adalah Murrah, Nili-Ravi, Surti, Mehsana, Nagpuri dan Jaffarabad (Chantalakhana dan Falvey, 1999).

Sesuai dengan namanya, kerbau sungai lebih suka berendam di air yang jernih dan mengalir (Subasinghe dkk., 1998).

Trah kerbau yang paling penting untuk produksi susu di India adalah kerbau Murrah. Kerbau Murrah berasal dari daerah sekitar Delhi, dan trah kerbau ini telah tersebar dari daerah itu ke berbagai daerah lainnya di India. 

Trah kerbau Surti dan Nili-Ravi diyakini merupakan perkembangan dari kerbau Murrah akibat isolasi geografis. 

Kerbau Nili-Ravi adalah dua trah kerbau yang berbeda (kerbau Nili dan kerbau Ravi) tetapi sekarang dianggap sebagai satu trah kerbau. Trah kerbau Kundi juga penting dalam produksi susu. 

Secara tradisional, trah kerbau di Eropa adalah trah kerbau Mediterania lokal, dan trah kerbau di Kaukasia adalah trah kerbau Kaukasia. 

Trah kerbau terpenting di Bulgaria adalah trah kerbau Murrah Bulgaria, yang merupakan hasil persilangan antara kerbau Mediterania lokal dan kerbau Murrah India, diikuti dengan pemuliaan dengan kerbau Murrah India. 

Perkawinan silang kerbau lokal dengan kerbau unggul dengan produksi susu tinggi kini telah dimulai di beberapa negara.

Hipyan Nopri, S.Pd., C.S.H. (Calon Sarjana Hukum)

Penerjemah Dokumen Peternakan Inggris-Indonesia

Padang Panjang, Sumatera Barat.

Referensi

Thomas, C.S. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba: DeLaval International AB.

20 October 2021

Pengantar Produksi Kerbau Perah: Distribusi Global Kerbau Ternak

Produksi susu kerbau telah menjadi tradisi di beberapa bagian dunia seperti negara-negara Kaukasia, Asia, dan Mesir, di mana susu kerbau segar, dahi (susu asam yang difermentasi), ghee (minyak mentega) dan yoghurt sangat terkenal. 

Di Italia, industri susu kerbau berkembang pesat berkat popularitas keju mozzarella kerbau. Berkat pasar mozzarella, peternakan kerbau menjadi usaha yang menguntungkan dan dilakukan secara terorganisir dengan peralatan modern. 

Di negara-negara Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina, kerbau dipelihara untuk diambil susu dan dagingnya. 

Dalam beberapa tahun terakhir, susu kerbau dan produk susu kerbau, terutama keju mozzarella, telah menjadi sangat terkenal dan produksi kerbau perah telah merambah ke daerah non-tradisional kerbau dengan jumlah peternakan kerbau menjamur bahkan di Inggris dan Amerika Serikat (Palmer, 2005). 

Di India dan juga Pakistan, di sekitar semua kota besar seperti Mumbai, Kalkuta, dan Karachi, orang dapat menemukan sejumlah besar peternakan kerbau dengan jumlah populasi yang beragam. 

Di Mumbai saja, ada lebih dari 200.000 kerbau di kawasan pusat kota dan mungkin 100.000 lagi di daerah pinggiran kota. Beberapa dari peternakan ini memiliki jumlah populasi kerbau lebih dari 1000 ekor, dan rata-rata populasi ternak tersebut memiliki lebih dari 100 ekor kerbau (Vidya, 2004). 

Produksi kerbau perah skala besar adalah kenyataan yang lebih besar di India dan Pakistan daripada di negara lain di dunia – meskipun itu merupakan kurang dari dua persen dari peternakan kerbau di kedua negara tersebut.

Populasi

Ada 170 juta kerbau di dunia saat ini: 97% di Asia, 2% di Afrika – terutama di Mesir, dan 0,2% di Eropa – terutama di Italia (FAO, 2004). India memiliki populasi kerbau 56%, Pakistan 14%, dan Cina 13% dari total populasi kerbau dunia. 

Hampir 98% kerbau di Asia dan Pasifik dipelihara oleh petani kecil yang memiliki lahan kurang dari dua hektar dan populasi kerbau kurang dari lima ekor (Chantalakhana dan Falvey, 1999). 

Kerbau menghasilkan 72 juta ton susu dan tiga juta ton daging setiap tahun untuk pangan penduduk dunia, sebagian besar di daerah yang rentan terhadap ketidakseimbangan nutrisi. 

Selain itu, kerbau menjadi sumber utama tenaga kerja, dan itulah sebabnya kerbau disebut sebagai “traktor hidup dari Timur” (Cockrill, 1967). 

Jadi, sangat mengejutkan bahwa kenyataannya sangat sedikit sumber daya dan upaya internasional yang digunakan dan yang dilakukan untuk mengembangkan spesies ternak ini. 

Demikian pula, sistem dan program pemuliaan kerbau belum efektif meskipun keragaman genetik spesies ternak ini sangat melimpah.


Hipyan Nopri, S.Pd., C.S.H. (Calon Sarjana Hukum)

Penerjemah Dokumen Peternakan Inggris-Indonesia

Padang Panjang, Sumatera Barat.

Referensi

Thomas, C.S. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba: DeLaval International AB.

Pengantar Produksi Kerbau Perah: Domestikasi dalam perspektif sejarah

Penelitian mengenai pemukiman manusia selama berabad-abad menunjukkan bahwa pemeliharaan atau domestikasi hewan adalah bagian tak terpisahkan dalam perkembangan peradaban. 

Temuan arkeologi dan data sejarah menunjukkan fakta bahwa kerbau pertama kali dijinakkan sekitar tahun 2500 SM di Lembah Indus: India dan Pakistan sekarang (Chantalakhana dan Falvey, 1999). 

Sekitar tahun 600 SM, para pedagang Arab membawa kerbau dari Mesopotamia menuju Timur Dekat: wilayah Suriah, Israel dan Turki saat ini.

Selama Abad Pertengahan, kerbau dibawa ke Eropa oleh para peziarah dan tentara salib. Kerbau sekarang terdapat di Italia, Hongaria, Rumania, beberapa negara Balkan, Yunani dan Bulgaria. Kerbau ternak juga telah dibawa ke Amerika Selatan, Amerika Serikat, dan Australia (BSTID, 1981).

Produksi susu dunia meningkat dua kali lipat dalam beberapa puluh tahun terakhir dan perlu dicatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kerbau telah memasok sekitar 12% dari total produksi susu dunia. 

India dan Pakistan masing-masing telah menghasilkan 60% dan 30% dari total produksi susu kerbau dunia. Di India, susu kerbau merupakan 55% dan di Pakistan 75% dari total produksi susu mereka (FAO, 2004).


Distribusi kerbau ternak di berbagai belahan dunia.

Hipyan Nopri, S.Pd., C.S.H. (Calon Sarjana Hukum)

Penerjemah Dokumen Peternakan Inggris-Indonesia

Padang Panjang, Sumatera Barat.


Referensi

Thomas, C.S. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba: DeLaval International AB.

13 January 2021

Ayam Merawang: Galur Ayam Lokal Unggul Dwiguna

Ayam Merawang berasal dari Cina. 

Ayam ini dibawa dari sana oleh para pekerja Cina yang datang ke Bangka ratusan tahun yang lalu. 

Karena sudah lama hidup bebas seperti ayam Kampung dan berkembang biak di daerah Merawang, provinsi Bangka-Belitung, ayam ini sudah beradaptasi dengan lingkungan tropis. 

Karena itu, ayam Merawang dikategorikan sebagai galur ayam tersendiri. 

Dengan ukuran badan ayam jantan dan betina yang lebih besar dan produksi telur yang lebih banyak daripada ayam kampung, ayam Merawang merupakan galur ayam unggul. 

Jadi, ini merupakan galur ayam lokal atau ayam Kampung yang cocok dijadikan ayam pedaging maupun petelur. 

Dengan kata lain, ayam Merawang tergolong ayam dwiguna.

Ayam Merawang sebagai ayam pedaging mempunyai kelebihan antara lain: lebih tahan terhadap stres dan penyakit dan dagingnya disukai karena rendah kandungan lemaknya.

Pada umur lima bulan dengan pemeliharaan intensif berat pejantannya lebih dari 2 kg.

Bila dibandingkan dengan ayam ras, produktivitas ayam Merawang memang lebih rendah. Namun dalam hal cita rasa, daging ayam Merawang kenyal, sedikit lemak, dan enak.

Dengan demikian, daging ayam Merawang lebih sehat daripada daging ayam ras. 

Telur ayam Merawang juga enak dan harganya relatif stabil dibandingkan dengan ayam ras. Telur ayam Merawang biasanya dijual per butir; tidak kiloan seperti telur ayam ras.

Berikut ini karakteristik ayam Merawang. 

No

Kriteria

Keterangan

1

Asal

Desa Merawang, Bangka

2

Warna bulu

Coklat kemerahan, mirip RIR (Rhode Island Red)

3

Warna kerabang telur

Coklat

4

Warna kaki

Kuning, kadang-kadang putih dan hitam

5

Pertumbuhan bulu

Betina lebih cepat daripada jantan

6

Bertelur pertama

Umur 5.5 bulan dan bobot badan 1.57kg

7

Produksi telur

125 butir/ekor/tahun

8

Berat telur

38-45 gram

9

Bobot DOC

25-30 gram


Referensi

Perlu jasa penerjemah?