Efisiensi reproduksi kerbau ditentukan oleh berbagai proses yang merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.
Proses yang terlibat, baik secara sendiri ataupun bersama, meliputi umur pubertas atau dewasa kelamin, pola siklus
estrus dan perilaku estrus, lama masa perkawinan, tingkat ovulasi, masa anestrus laktasi, anestrus pascapartus, jarak beranak, dan masa hidup
reproduktif.
Kombinasi sifat tersebut digunakan untuk mengukur
efisiensi atau kinerja reproduksi kerbau (Agrawal, 2003).
Efisiensi reproduksi kerbau dilaporkan sangat rendah, sehingga
mengkhawatirkan dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi produsen susu
(Ranjan dan Pathak, 1992).
Beberapa kendala yang ditemukan terkait kinerja reproduksi
kerbau:
· Waktu munculnya berahi pertama setelah beranak
sangat bervariasi menurut musim, trah, dan individu.
Dalam sejumlah kasus, berahi
tersebut dilaporkan muncul dalam waktu kurang dari 60 hari, sedangkan pada
kasus lainnya baru muncul setelah lebih dari 230 hari.
Rata-rata waktu munculnya estrus
pascapartus pada kerbau Murrah di India dilaporkan 100 hari.
Estrus pertama setelah beranak
tidak selalu subur, terutama jika terjadi sangat dekat dengan waktu kelahiran.
Saat lahir, jumlah sel primordial dalam ovarium kerbau lebih sedikit daripada pada sapi.
Dibandingkan dengan sapi, kerbau mengalami atresia folikel yang lebih tinggi—20.000 berbanding 100.000 (Bhosrekar, 2005).
Kerbau memiliki proporsi estrus tenang yang tinggi serta durasi estrus yang singkat.
Hal ini merupakan salah satu
masalah terpenting dalam efisiensi reproduksi kerbau.
Masalah tersebut bahkan lebih berat
selama musim panas dan lembap karena diperparah oleh stres panas.
Estrus yang singkat dan tidak jelas merupakan alasan utama tanda berahi sering tidak terdeteksi pada kerbau.
Banyak kerbau mengalami anestrus pascapartus, yaitu tidak adanya siklus estrus sama sekali dan tidak munculnya tanda berahi.
Kondisi ini merupakan salah satu
penyebab infertilitas yang paling umum pada kerbau.
Penyebab rendahnya kinerja reproduksi:
Iklim memengaruhi produksi dan reproduksi pada
semua ternak.
Namun, karena kerbau sangat rentan
terhadap kondisi panas dan dingin yang ekstrem, kinerjanya cenderung lebih baik
selama musim yang sejuk.
Di India, 70–80% kerbau mengalami
konsepsi antara bulan Juli dan Februari.
Di Italia, musim beranak biasanya
berlangsung dari bulan September hingga Desember.
Di India, dilaporkan bahwa jumlah
perkawinan yang diperlukan pada musim kawin bulan Juli hingga Februari lebih sedikit
daripada pada bulan Maret hingga Juni (Agrawal, 2003).
Aktivitas seksual kerbau meningkat
seiring dengan berkurangnya lama penyinaran matahari.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, kerbau memiliki toleransi panas yang rendah karena sistem termoregulasinya kurang berkembang sehingga tidak mampu melepaskan kelebihan panas tubuh.
Jika kandangnya tidak dirancang
untuk memenuhi kebutuhan khusus kerbau akan naungan dan ventilasi yang
memadai, produksi dan reproduksinya akan terdampak (Ramesh et al., 2002).
Namun, sangat mungkin dampak
nutrisi yang buruk kerap ditafsirkan sebagai sifat musiman perkembangbiakan
pada kerbau.
Pemberian pakan yang kurang,
berlebihan, atau tidak seimbang, serta kekurangan mineral, vitamin, atau unsur
renik, akan menurunkan fertilitas kerbau sebagaimana pada ternak lainnya.
Skor kondisi tubuh yang buruk saat beranak memengaruhi fertilitas, yang ditandai dengan memanjangnya interval pascapartus, menurunnya tingkat konsepsi, dan meningkatnya jumlah perkawinan per konsepsi.
Pakan dengan kandungan protein yang sangat rendah dapat
menyebabkan terhentinya estrus (Agrawal, 2003).
Salah satu penyebab kerbau mengalami anestrus pascapartus yang berkepanjangan adalah perilaku alaminya berkubang di genangan air kotor serta kondisi kandang yang tidak higienis, yang mengakibatkan tingginya kejadian endometritis pada kerbau.
Ligamen uterus yang lebar dan longgar serta kebiasaan berkubang di air menyebabkan terjadinya kasus torsio uterus pada kerbau.
Kerbau juga mengalami prolaps uterus dan retensi plasenta.
Semua kondisi tersebut menyebabkan infeksi uterus, keterlambatan involusi uterus, dan endometritis pada kerbau sehingga diperlukan kawin ulang.
Sumber: Thomas, C. Santosh. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba, Swedia: DeLaval International AB.


