Sepasang Kambing Kacang Bujang dan Dara
Google
 

10 August 2026

Kinerja Reproduksi Kerbau


Efisiensi reproduksi kerbau ditentukan oleh berbagai proses yang merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.

Proses yang terlibat, baik secara sendiri ataupun bersama, meliputi umur pubertas atau dewasa kelamin, pola siklus estrus dan perilaku estrus, lama masa perkawinan, tingkat ovulasi, masa anestrus laktasi, anestrus pascapartus, jarak beranak, dan masa hidup reproduktif.

Kombinasi sifat tersebut digunakan untuk mengukur efisiensi atau kinerja reproduksi kerbau (Agrawal, 2003).

Efisiensi reproduksi kerbau dilaporkan sangat rendah, sehingga mengkhawatirkan dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi produsen susu (Ranjan dan Pathak, 1992).

Beberapa kendala yang ditemukan terkait kinerja reproduksi kerbau:

·    Waktu munculnya berahi pertama setelah beranak sangat bervariasi menurut musim, trah, dan individu.

Dalam sejumlah kasus, berahi tersebut dilaporkan muncul dalam waktu kurang dari 60 hari, sedangkan pada kasus lainnya baru muncul setelah lebih dari 230 hari.

Rata-rata waktu munculnya estrus pascapartus pada kerbau Murrah di India dilaporkan 100 hari.

Estrus pertama setelah beranak tidak selalu subur, terutama jika terjadi sangat dekat dengan waktu kelahiran.

Saat lahir, jumlah sel primordial dalam ovarium kerbau lebih sedikit daripada pada sapi.

Dibandingkan dengan sapi, kerbau mengalami atresia folikel yang lebih tinggi—20.000 berbanding 100.000 (Bhosrekar, 2005).

Kerbau memiliki proporsi estrus tenang yang tinggi serta durasi estrus yang singkat.

Hal ini merupakan salah satu masalah terpenting dalam efisiensi reproduksi kerbau.

Masalah tersebut bahkan lebih berat selama musim panas dan lembap karena diperparah oleh stres panas.

Estrus yang singkat dan tidak jelas merupakan alasan utama tanda berahi sering tidak terdeteksi pada kerbau.

Banyak kerbau mengalami anestrus pascapartus, yaitu tidak adanya siklus estrus sama sekali dan tidak munculnya tanda berahi.

Kondisi ini merupakan salah satu penyebab infertilitas yang paling umum pada kerbau.

Penyebab rendahnya kinerja reproduksi:

     Iklim memengaruhi produksi dan reproduksi pada semua ternak.

Namun, karena kerbau sangat rentan terhadap kondisi panas dan dingin yang ekstrem, kinerjanya cenderung lebih baik selama musim yang sejuk.

Di India, 70–80% kerbau mengalami konsepsi antara bulan Juli dan Februari.

Di Italia, musim beranak biasanya berlangsung dari bulan September hingga Desember.

Di India, dilaporkan bahwa jumlah perkawinan yang diperlukan pada musim kawin bulan Juli hingga Februari lebih sedikit daripada pada bulan Maret hingga Juni (Agrawal, 2003).

Aktivitas seksual kerbau meningkat seiring dengan berkurangnya lama penyinaran matahari.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, kerbau memiliki toleransi panas yang rendah karena sistem termoregulasinya kurang berkembang sehingga tidak mampu melepaskan kelebihan panas tubuh.

Jika kandangnya tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan khusus kerbau akan naungan dan ventilasi yang memadai, produksi dan reproduksinya akan terdampak (Ramesh et al., 2002).

 Sebagaimana pada ternak lainnya, nutrisi berperan besar dalam kinerja reproduksi kerbau.

Namun, sangat mungkin dampak nutrisi yang buruk kerap ditafsirkan sebagai sifat musiman perkembangbiakan pada kerbau.

Pemberian pakan yang kurang, berlebihan, atau tidak seimbang, serta kekurangan mineral, vitamin, atau unsur renik, akan menurunkan fertilitas kerbau sebagaimana pada ternak lainnya.

Skor kondisi tubuh yang buruk saat beranak memengaruhi fertilitas, yang ditandai dengan memanjangnya interval pascapartus, menurunnya tingkat konsepsi, dan meningkatnya jumlah perkawinan per konsepsi. 

Pakan dengan kandungan protein yang sangat rendah dapat menyebabkan terhentinya estrus (Agrawal, 2003).

Salah satu penyebab kerbau mengalami anestrus pascapartus yang berkepanjangan adalah perilaku alaminya berkubang di genangan air kotor serta kondisi kandang yang tidak higienis, yang mengakibatkan tingginya kejadian endometritis pada kerbau.

Ligamen uterus yang lebar dan longgar serta kebiasaan berkubang di air menyebabkan terjadinya kasus torsio uterus pada kerbau.

Kerbau juga mengalami prolaps uterus dan retensi plasenta.

Semua kondisi tersebut menyebabkan infeksi uterus, keterlambatan involusi uterus, dan endometritis pada kerbau sehingga diperlukan kawin ulang.

Sumber: Thomas, C. Santosh. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba, Swedia: DeLaval International AB.

06 August 2026

Reproduksi dan Perkembangbiakan Kerbau


Kerbau sering dikatakan sebagai hewan yang berkembang biak secara musiman. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya benar karena kerbau merupakan hewan poliesterus, sehingga dapat berkembang biak sepanjang tahun. 

Reputasi kerbau sebagai hewan yang sulit berkembang biak disebabkan oleh kerentanannya terhadap stres lingkungan, yang dapat menyebabkan anestrus (tidak mengalami birahi) dan subestrus (gejala birahi yang kurang jelas). 

Kondisi tersebut menyebabkan jarak beranak yang lebih panjang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar bagi industri peternakan kerbau perah. 

Kerentanan terhadap stres panas juga memengaruhi konsumsi pakan dan keseimbangan nutrisi, yang pada akhirnya menghambat efisiensi reproduksi.

Jantan

Kerbau Murrah jantan mencapai kematangan seksual pada usia dua hingga tiga tahun. Semen diproduksi sepanjang tahun, tetapi kualitasnya sangat dipengaruhi oleh stres panas dan pakan yang berkualitas rendah. 

Kerbau jantan tampaknya memiliki tingkat kesuburan tertinggi pada musim semi, ketika volume ejakulat dan konsentrasi sperma berada pada tingkat maksimum. 

Vitalitas sperma juga jauh lebih tinggi pada musim semi dibandingkan pada waktu lain dalam setahun. 

Sebaliknya, nilai tersebut mencapai tingkat terendah pada musim panas. Stres panas juga dapat berdampak negatif terhadap libido.

Betina

Kerbau betina liar atau yang hidup bebas mencapai kematangan seksual pada usia dua hingga tiga tahun. Kerbau Murrah betina yang dipelihara dengan baik dan diberi pakan yang memadai dapat mencapai pubertas lebih awal. 

Pubertas sangat dipengaruhi oleh faktor manajemen pemeliharaan. Ukuran tubuh lebih penting daripada umur. 

Seekor kerbau Murrah dara sebaiknya memiliki bobot sekitar 325 kg saat dilakukan inseminasi atau perkawinan, dan mencapai bobot 450–500 kg pada saat melahirkan anak pertama.

Di India, usia pubertas kerbau berkisar 36 hingga 42 bulan. Angka ini relatif lebih lambat dibandingkan negara lain, seperti Italia, di mana rata-rata usia saat melahirkan pertama berkisar antara 28 hingga 32 bulan (Borghese dan Mazzi, 2005).

Keterlambatan pubertas pada kerbau jantan maupun betina merupakan hal yang umum terjadi di India. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap anak kerbau selama masa pertumbuhannya. 

Setelah berusia sekitar empat hingga enam bulan, kerbau berpotensi mengalami pertambahan bobot badan sebesar 400–800 gram per hari, sehingga dapat mencapai bobot 300–450 kg, yaitu bobot yang sesuai untuk dikawinkan, pada usia sekitar 24 bulan.

Namun demikian, pada sebagian besar kerbau perah, kelahiran anak pertama baru terjadi pada usia empat hingga enam tahun. Kondisi ini terutama disebabkan oleh kurang memadainya pasokan pakan dan nutrisi selama fase pertumbuhan (Ranjan dan Pathak, 1992).

Siklus Reproduksi Kerbau

Siklus estrus pada kerbau berkisar antara 21 hingga 29 hari, bergantung pada jenis atau rasnya. Lama estrus umumnya sekitar 24 jam, tetapi dapat bervariasi antara 12 hingga 72 jam

Tanda estrus yang paling dapat diandalkan adalah sering buang air kecil. Dibandingkan dengan sapi, tanda-tanda estrus pada kerbau tidak begitu jelas. Banyak kerbau hanya menunjukkan gejala estrus pada malam hari sehingga sulit dideteksi. 

Kerbau yang sedang laktasi dapat mengalami sedikit penurunan produksi susu saat berada dalam masa birahi, meskipun penurunan tersebut umumnya tidak sejelas pada sapi. Kerbau juga dapat menjadi lebih gelisah dan lebih sulit diperah (Bhikane dan Kawitkar, 2000).

Parameter Reproduksi Kerbau

  • Usia pubertas: 36–42 bulan

  • Lama siklus estrus: 21 hari

  • Lama masa birahi: 12–24 jam

  • Waktu ovulasi: 10–14 jam setelah estrus berakhir

  • Periode kesuburan maksimum: 8 jam terakhir masa estrus

  • Lama kebuntingan: 310 hari

  • Masa involusi uterus: 25–35 hari


Sumber: Thomas, C. Santosh. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba, Swedia: DeLaval International AB.

Perlu jasa penerjemah?