Efisiensi reproduksi kerbau dipengaruhi oleh kondisi pemeliharaan, kesehatan, kecukupan pakan, dan ketepatan deteksi berahi. Pengelolaan yang memperhatikan kebutuhan alami kerbau dapat mendukung kenyamanan ternak sekaligus membantu menjaga siklus reproduksinya. Uraian berikut merangkum beberapa langkah praktis untuk memperbaiki lingkungan kandang, mengurangi dampak panas, memenuhi kebutuhan nutrisi, mencegah gangguan kesehatan, dan memantau berahi.
1. Menyediakan kandang yang sesuai dengan kebutuhan perilaku alami kerbau penting untuk mengoptimalkan kinerjanya. Sistem kandang bebas maupun kandang tambat cocok untuk kerbau. Namun, kandang harus menyediakan perlindungan yang memadai dari panas maupun suhu dingin ekstrem. Selama musim panas, kerbau harus dilindungi dari panas ekstrem, sedangkan selama musim dingin, mereka juga harus dilindungi dari suhu dingin ekstrem (Ramesh et al., 2002).
2. Selama waktu terpanas dalam sehari, kerbau harus diberi akses ke pancuran atau penyemprot kabut yang dilengkapi kipas, ataupun kolam berkubang. Upaya perbaikan kondisi termal, seperti penyiraman dan pendinginan, diketahui dapat meningkatkan kenyamanan dan konsumsi pakan kerbau (Sastry and Tripathi, 1988; Thomas et al., 2005).
3. Pemberian pakan seimbang yang dilengkapi suplemen mineral, hijauan melimpah, dan konsentrat sesuai kebutuhan setiap ternak diperlukan agar kerbau kembali menjalani siklus reproduksi normal.
4. Pemeriksaan rutin semua kerbau dan pejantan untuk mendeteksi penyakit reproduksi menular seperti bruselosis, serta pengafkiran rutin ternak yang terinfeksi, sangat penting bagi kesehatan reproduksi kawanan kerbau. Penanganan tepat waktu terhadap kasus distokia dan retensio plasenta, serta menjaga kebersihan selama proses kelahiran, juga penting untuk mencegah gangguan reproduksi seperti endometritis.
5. Bagan dinding, roda reproduksi, monitor kawanan kerbau, dan catatan individu kerbau merupakan alat bantu penting untuk mendeteksi berahi.
Kunci keberhasilan penggunaan alat bantu manajemen yang murah ini adalah mencatat setiap berahi secara akurat, dimulai dari berahi pertama setelah beranak, serta memanfaatkan informasi tersebut setiap hari untuk mengidentifikasi kerbau yang diperkirakan akan kembali berahi (Ramesh et al., 2002).
Diagram di atas menunjukkan urutan beranak → konsepsi → kering kandang → beranak selama 410 hari. Masa siap kawin ditandai dari hari ke-0 sampai hari ke-100. Sumber: Ståhl Högberg dan Lind (2003).
Tabel 2. Jarak antar-kelahiran pada kerbau
Ras/Negara |
Lama kebuntingan (hari) |
Umur saat beranak pertama kali (bulan) |
Jumlah kawin per konsepsi |
Jarak antar-kelahiran (hari) |
|---|---|---|---|---|
Mesir |
315 |
1,8 (IB) |
452 |
|
Mesir |
315 |
1,42 |
400 |
|
Irak |
37 |
408 |
||
Mediterania/Bulgaria |
315–318 |
37 |
434 |
|
Mediterania/Italia |
308–312 |
39 |
425 |
|
Mediterania/Rumania |
315 |
39 |
433 |
|
Murrah/Bulgaria |
312 |
38 |
436 |
|
Murrah/India |
307–314 |
38 |
1–3,5 |
334–537 |
Murrah/Nepal |
52,3 |
594 |
||
Nili-Ravi/Pakistan |
308 |
43–48 |
528 |
|
Lokal/Nepal |
44,5 |
570 |
IB = inseminasi buatan.
Penerapan langkah-langkah tersebut secara terpadu dan konsisten membantu menciptakan kondisi yang mendukung reproduksi kerbau. Pencatatan berahi dan pemantauan setiap ternak secara teratur dapat membantu peternak menentukan waktu kawin atau inseminasi dengan lebih tepat, sekaligus mengenali masalah kesehatan reproduksi lebih dini.
Sumber: Thomas, C. Santosh. 2008. Efficient Dairy Buffalo Production. Tumba, Swedia: DeLaval International AB.


