Kerbau sering dikatakan sebagai hewan yang berkembang biak secara musiman. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya benar karena kerbau merupakan hewan poliesterus, sehingga dapat berkembang biak sepanjang tahun.
Reputasi kerbau sebagai hewan yang sulit berkembang biak disebabkan oleh kerentanannya terhadap stres lingkungan, yang dapat menyebabkan anestrus (tidak mengalami birahi) dan subestrus (gejala birahi yang kurang jelas).
Kondisi tersebut menyebabkan jarak beranak yang lebih panjang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar bagi industri peternakan kerbau perah.
Kerentanan terhadap stres panas juga memengaruhi konsumsi pakan dan keseimbangan nutrisi, yang pada akhirnya menghambat efisiensi reproduksi.
Jantan
Kerbau Murrah jantan mencapai kematangan seksual pada usia dua hingga tiga tahun. Semen diproduksi sepanjang tahun, tetapi kualitasnya sangat dipengaruhi oleh stres panas dan pakan yang berkualitas rendah.
Kerbau jantan tampaknya memiliki tingkat kesuburan tertinggi pada musim semi, ketika volume ejakulat dan konsentrasi sperma berada pada tingkat maksimum.
Vitalitas sperma juga jauh lebih tinggi pada musim semi dibandingkan pada waktu lain dalam setahun.
Sebaliknya, nilai tersebut mencapai tingkat terendah pada musim panas. Stres panas juga dapat berdampak negatif terhadap libido.
Betina
Kerbau betina liar atau yang hidup bebas mencapai kematangan seksual pada usia dua hingga tiga tahun. Kerbau Murrah betina yang dipelihara dengan baik dan diberi pakan yang memadai dapat mencapai pubertas lebih awal.
Pubertas sangat dipengaruhi oleh faktor manajemen pemeliharaan. Ukuran tubuh lebih penting daripada umur.
Seekor kerbau Murrah dara sebaiknya memiliki bobot sekitar 325 kg saat dilakukan inseminasi atau perkawinan, dan mencapai bobot 450–500 kg pada saat melahirkan anak pertama.
Di India, usia pubertas kerbau berkisar 36 hingga 42 bulan. Angka ini relatif lebih lambat dibandingkan negara lain, seperti Italia, di mana rata-rata usia saat melahirkan pertama berkisar antara 28 hingga 32 bulan (Borghese dan Mazzi, 2005).
Keterlambatan pubertas pada kerbau jantan maupun betina merupakan hal yang umum terjadi di India. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap anak kerbau selama masa pertumbuhannya.
Setelah berusia sekitar empat hingga enam bulan, kerbau berpotensi mengalami pertambahan bobot badan sebesar 400–800 gram per hari, sehingga dapat mencapai bobot 300–450 kg, yaitu bobot yang sesuai untuk dikawinkan, pada usia sekitar 24 bulan.
Namun demikian, pada sebagian besar kerbau perah, kelahiran anak pertama baru terjadi pada usia empat hingga enam tahun. Kondisi ini terutama disebabkan oleh kurang memadainya pasokan pakan dan nutrisi selama fase pertumbuhan (Ranjan dan Pathak, 1992).
Siklus Reproduksi Kerbau
Siklus estrus pada kerbau berkisar antara 21 hingga 29 hari, bergantung pada jenis atau rasnya. Lama estrus umumnya sekitar 24 jam, tetapi dapat bervariasi antara 12 hingga 72 jam.
Tanda estrus yang paling dapat diandalkan adalah sering buang air kecil. Dibandingkan dengan sapi, tanda-tanda estrus pada kerbau tidak begitu jelas. Banyak kerbau hanya menunjukkan gejala estrus pada malam hari sehingga sulit dideteksi.
Kerbau yang sedang laktasi dapat mengalami sedikit penurunan produksi susu saat berada dalam masa birahi, meskipun penurunan tersebut umumnya tidak sejelas pada sapi. Kerbau juga dapat menjadi lebih gelisah dan lebih sulit diperah (Bhikane dan Kawitkar, 2000).
Parameter Reproduksi Kerbau
Usia pubertas: 36–42 bulan
Lama siklus estrus: 21 hari
Lama masa birahi: 12–24 jam
Waktu ovulasi: 10–14 jam setelah estrus berakhir
Periode kesuburan maksimum: 8 jam terakhir masa estrus
Lama kebuntingan: 310 hari
Masa involusi uterus: 25–35 hari
